Buah Simalakama Peningkatan Perokok Anak Di Indonesia

Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia

Buah Simalakama Peningkatan Perokok Anak Di Indonesia

Oleh : Mukhamad Fajar Asyidik
#BIMKMIMenulis

Bahasan mengenai rokok menjadi suatu bahasan yang tidak ada habisnya untuk diperbincangkan di Indonesia bahkan dunia kerena permasalahan yang ada sangat kompleks. Mulai dari masalah ekonomi, kesehatan, hak asasi maupun kebijakan terkait pengendalian rokok. Pelbagai penelitian menyimpulkan bahwa asap rokok mengandung 4.000 senyawa kimia, dengan 250 zat kategori berbahaya dan 50 zat diduga karsinogenik. Zat kimia yang ada dalam rokok memberikan dampak buruk bagi kesehatan perokok maupun bagi orang lain yang menghirup asap rokok. Menurut Soewarta Kosen, ahli kesehatan masyarakat dalam buku A Giany Pack Of Lies memperkirakan setiap tahun diperkirakan ada 427.948 jiwa melayang akibat penyakit yang terkait rokok seperti berbagai jenis kanker, penyakit paru, serangan jantung, kelainan janin, serangan asma, dan lain sebagainya. Itu berarti ada 1.172 nyawa yang terenggut akibat rokok setiap hari, atau hampir 50 orang setiap jam (Mardiyah Chamim, 2011).

Berdasarkan riset Atlas Tobbaco, Indonesia merupakan negara ketiga di dunia dengan jumlah perokok terbanyak. Di tahun 2016, perokok di Indonesia mencapai 90 juta jiwa. Prevalensi perokok laki-laki yaitu sebesar 67,4% menempati urutan pertama di Asia Tenggara. Kenyataan itu diperparah dengan usia perokok di Indonesia yang semakin muda. Berdasarkan data riset kesehatan dasar atau Riskesdas 2018 data perokok pemula (usia 10-18 tahun) di Indonesia semakin meningkat dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 9,1 persen. Sedangkan menurut target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015- 2019 seharusnya prevalensi perokok anak usia 10-18 tahun ialah 5,4 persen pada tahun 2019.

Anak adalah harta yang paling berharga bagi setiap orang tua yang dibawanya segudang harapan sebagai penerus kehidupan. Selain itu anak merupakan aset yang sangat berharga bagi sebuah negara karena masa depan bangsa dan negara ini ada ditangannya. Bonus demografi yang diprediksikan akan dicapai oleh Indonesia di tahun 2030 akan menjadi boomerang bagi bangsa ini, apabila generasi muda digerogoti oleh penyakit katastropik akibat kebiasan konsumsi rokok. Indonesia seharusnya dapat memanfaatkan moment bonus demografi tersebut dengan maksimal jika generasi muda bagsa ini sehat dan produktif. Meningkatnya jumlah perokok usia muda di Indonesia seharusnya menjadi perhatian khusus bagi pemerintah mengingat dampak jangka panjang yang ditimbulkan.

Tanggung jawab dalam mengurangi dampak buruk rokok bukan hanya ada pada pemerintah melainkan juga ada pada masyarakat dan perusahaan rokok. Mayarakat perlu diberikan edukasi dan pemaham sejak dini mengenai dampak buruk akibat kebiasaan merokok. Kesadaran diri tentang bahaya merokok harus ditumbuhkan, karena mampu mendorong seseorang dalam menentukan sikap dan perilaku yang akan menjadi kebiasaan atau lifestyle. Berbagai faktor yang mempengaruhi perilaku anak merokok usia dini diantaranya faktor pengetahuan, lingkungan, dan keluarga. Peraturan mengenai peredaran rokok dan tersedianya sumber bahan baku rokok yang melimpah serta akses yang mudah untuk mendapatkan rokok juga menjadi faktor yang menyebabkan terus bertambahnya jumlah perokok anak usia muda di Indonesia.

Pengetahuan anak yang minim ditambah dengan rasa ingin tahu seorang anak dengan hal baru menjadi faktor pendorong perilaku merokok. Serta dipengaruhi oleh berbagai persepsi tentang rokok yang ada di masyarakat. Diantaranya “ kalau tidak merokok tidak gantelman”, “merokok adalah bukti kemerdekaan”, “merokok bagi seorang wanita adalah bentuk kesetaraan dengan pria”, bahkan ada anggapan “perokok adalah pahlawan kesehatan”. Paradigma atau sudut pandang tersebut seringkali menjadi senjata untuk membela diri dan mempengaruhi orang lain yang ada dilingkungan perokok. Sehingga merokok menjadi sebuah lifestyle yang mengakar dengan disusul oleh anggapan dan sebuah kebiasaan yang wajar dilakukan. Ketika hal ini terjadi maka perokok yang sudah aktif akan susah berhenti dan perokok yang baru akan semakin banyak bermunculan.

Pemasaran yang dikemas secara apik yang ada di berbagai media elektronik maupun baliho mampu menarik perhatian dan pemikiran masyarakat. Bahkan dalam produksi dan pemasaran rokok jika diamati ada yang melakukan eksploitasi anak. Mulai dari pekerja anak dalam proses penanaman tembakau sampai dengan pemanfaatan anak sebagai media sponsor berjalan. Maksudnya ialah melalui beasiswa olahraga pencarian bakat olahragawan, dimana setiap anak yang mengikuti akan menggunaan berbagai atribut yang mengandung logo suatu produk rokok. Melalu startegi tersebut dengan dalih kepeduliaan terhadap dunia olahraga, merekrut generasi muda melalui beasiswa yang diberikan. Namun dibalik itu semua sebenarnya sama seperti memanfaatkan para peserta besaiswa itu sebagai suatu upaya industri rokok untuk menunjukan, jika industri rokok seakan-akan mampu memberikan manfaat yang baik bagi masyarakat. Melalui pencitraan tersebut mampu mempengaruhi pemikiran masyarakat dengan mengkonsumsi rokok dapat membantu melahirkan bibit olahragawan masadepan bagi Indonesia.

Permasalah rokok di Indonesia ibarat seperti buah simalakama bagi pemerintah. Produksi rokok mampu menggerakkan kehidupan petani tembakau dan pekerja di industri rokok. Cukai rokok mampu menyumbang pendapatan negera, namun disisi lain rokok memberikan beben biaya kesehatan yang harus dikeluarkan untuk menangani penyakit akibat rokok. Jika diperhitungkan dengan pengeluaran negara dalam menangani penderita penyakit akibat rokok akan jauh lebih besar dibandingkan pemasukan yang di terima negara dari cukai rokok. Dampak jangka panjang yang di timbulkan menyebabkan semuanya tidak terlihat. Kebijakan pemerintah yang sangat lemah dalam mengendalikan peredaran rokok juga mendukung meningkatnya jumlah perokok di Indonesia. Akses yang sangat mudah di jangkau oleh siapapun baik orang dewasa atau muda, laki-laki maupun perempuan. Belum adanya aturan yang jelas dalam mengatur hal ini di Indonesai.

Meskipun di bungkus rokok sudah tertera aturan menganai batasan usia maupun himbauan terkait dampak yang di timbulkan bagi perokok. Usaha tersebut akan sia-sia jika tidak ada pembatasan menganai pembelian rokok. Upaya pembatasan pembelian rokok ini setidaknya mampu mencegah adanya peningkatan jumlah perokok anak di Indonesia. Peran keluarga terutama orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak juga sangat diperlukan dalam mencegah peningkatan jumlah perokok anak di Indonesia. Keluarga merupakan suatu aspek pendukung bagi seorang anak dalam masa tumbuh kembangnya. Berbagai godaan dan permasalahan yang dihadapi seorang anak, akan lebih terarah dengan adanya bimbingan dari orang tua ataupun kelurga. Sehingga dapat terbentuk seorang anak yang mampu berkomitmen meskipun dipengaruhi lingkungan sosial masyarakat disekitarnya. Selain masalah rokok konvensional sekarang sudah muncul adanya rokok elektrik.

Perlunya sebuah kebijakan yang kompleks dan memberikan solusi yang menyeluruh bagi setiap sektor yang terlibat dalam peroduksi dan peredaran rokok di Indonesia. Selain kebijakan pemerintah dibutuhkan adanya peran serta masyarakat dalam menerapkan hidup sehat tanpa rokok. Perusahaan rokok juga harus selalu memikirkan dan mempertimbangkan dampak jangka panjang sebagai beban bangsa dan negara. Komitmen bersama dalam menghindari kebiasan merokok masyarakat Indonesia menjadi kunci utma dalam mewujudkannya. Untuk mencapai hasil yang masksimal dari bonus demografi yang akan datang agar generasi muda menjadi sehat dan produktif. Maka dari itu harus kita jaga generasi muda Indonesia dari dampak buruk rokok.

Daftar Rujukan

ATLAS, T. T. (2020). TOBBACCO ATLAS INDONESIA. Retrieved Mei Kamis, 2020, from https://tobaccoatlas.org

Kementrian Kesehatan RI. (2018). Riset Kesehatan Dasar 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementrian PPN/Bappenas RI . (2015). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019. In K. P. RI. Jakarta: Kementrian Bappenas RI.

Mardiyah Chamim, W. D. (2011). A GIANY PACK of LIES BONGKAHAN RAKSASA KEBOHONGAN Menyoroti
Kedigdayaan Industri Rokok di Indonesia. Jakarta: KOJI Communications.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *