PEDULI, SADAR DAN LAKUKAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN HIV/AIDS

Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia

PEDULI, SADAR DAN LAKUKAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN HIV/AIDS

PEDULI, SADAR DAN LAKUKAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN HIV/AIDS

Oleh : Fifih

Pandemi COVID-19 yang telah berlangsung lebih dari 1 tahun ini menyebabkan kehidupan masyarakat Indonesia belum membaik, baik pada aspek ekonomi, kesehatan, sosial budaya juga pendidikan. Terlebih lagi masyarakat yang sebelumnya tengah menderita sakit, status kesehatan seseorang apalagi jika memiliki penyakit bawaan (komorbid) membuat kondisinya semakin rentan pada penularan COVID-19. Virus corona saat ini menjadi sorotan utama, akan tetapi disisi lain kita juga masih terus berjuang melawan virus mematikan lainya yaitu HIV. Epidemi HIV/AIDS (Human Immnunodeficiency Virus/Acquired Immnunodeficiency Syndrome) semakin berkembang cepat dan merupakan salah satu tantangan terbesar di masa kini sekalipun telah dilakukan berbagai upaya untuk mengendalikan dan menekankan penularanya. Sebuah studi yang dilakukan oleh program bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk penanganan AIDS (UNAIDS) mengungkapkan bahwa tindakan lockdown akibat dampak pandemi COVID-19 telah menghambat upaya penanganan infeksi HIV/AIDS.

Secara global terdapat 36 juta orang dengan HIV di seluruh dunia, di Asia Selatan dan Tenggara terdapat kurang lebih 5 juta orang dengan HIV. Berdasarkan data dari Ditjen P2P, Kemenkes RI tahun 2021 bahwa estimasi jumlah orang dengan HIV di Indonesia pada tahun 2020 sebanyak 543.100 orang dengan jumlah infkeksi baru sebanyak 29.557 orang dan kematian sebanyak 30.137 orang (hasil pemodelan spectrum 2020). Dan jumlah jumlah kasus HIV positif dilaporkan dari tahun ketahun cenderung meningkat. Namun, pada tahun 2020 jumlah kasus HIV positif merupakan yang terendah sejak empat tahun terakhir, yaitu dilaporkan sebanyak 41.987 kasus. Sebaliknya, dibandingkan rata-rata 8 tahun sebelumnya, jumlah kasus baru AIDS cenderung menurun tetapi mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya, pada tahun 2020 dilaporkan sebanyak 8.639 kasus.

Persoalan epidemi HIV/AIDS kian runyam jika dibandingkan dengan pandemi COVID-19 yaitu tidak ada vaksin untuk HIV/AIDS, sedangkan COVID-19 sudah ada vaksin. Selain itu gejala HIV/AIDS bisa sampai 15 tahun tidak muncul sehingga orang-orang yang menghidap HIV/AIDS yang tidak terdeteksi jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS, sedangkan gejala dan kesakitan infeksi COVID-19 sudah muncul dalam beberapa hari setelah tertular. Sampai saat ini belum ditemukanya vaksin atau obat yang efektif untuk mencegah atau menyembuhkan AIDS/infeksi HIV, sehingga untuk menghindari terinfeksi HIV dan menekankan penyebaran cara yang utama adalah perubahan perilaku. Cara pencegahan penularan HIV yang paling efektif adalah dengan memutus rantai penularan. Seperti yang kita ketahui bahwa penyebaran virus HIV melalui hubungan seks, jarum suntik yang tercemar, transfusi darah, atau donor darah organ tubuh. Pencegahan penularan melalui hubungan seksual, infeksi HIV terutama terjadi melalui hubungan seksual, sehingga pencegahan AIDS perlu di fokuskan pada hubungan seksual. Agar terhindar dari tertularnya HIV dan AIDS seseorang harus berperilaku seksual yang aman dan bertanggung jawab, yaitu hanya berhubungan seksual dengan pasangan sendiri. Menurut Kementrian Kesehatan RI langkah dini untuk mencegah HIV/AIDS adalah dengan “ABCDE”

  1. A (Absinence) artinya Absen atau tidak melakukan hubungan seks bagi yang belum menikah.
  2. B (Be faithful) artinya bersikap saling setia kepada satu pasangan seks (tidak berganti ganti pasangan)
  3. C (Condom) artinya cegah penularan HIV melalui hubungan seksual dengan menggunakan kondom
  4. D (Drug No) artinya dilarang menggunakan narkoba
  5. E (Education) artinya pemberian edukasi dan informasi yang benar mengenai HIV, cara penularan, pencegahan dan pengobatanya

Selain tindakan dini dalam mencegah HIV/AIDS tentunya kebijakan pemerintah harus tetap di implementasikan dalam menanggulangi HIV/AIDS. Sesuai dengan penerapan Permenkes No. 21 tahun 2013 tenatang penanggulangan HIV dan AIDS.  Meskipun adanya pandemi COVID-19 ini pemerintah harus menyeimbangi upaya penanggulangan HIV/AIDS baik dalam pelayanan promotif, promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif secara paripurna.

  1. upaya promotif dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan yang benar dan komprehensif mengenai pencegahan penularan HIV, menghilangkan stigma, dan diskriminasi. Promosi kesehatan ini dapat diberikan dalam bentuk informasi, edukasi, komunikasi, sosialisasi maupun pemberdayaan, peran serta masyarakat.
  2. Upaya preventif dilaksanakan dengan melakukan deteksi dini dan perubahan perilaku seperti penerapan pola hidup sehat dan tidak beresiko, pencegahan penularan HIV melalui hubungan seksual maupun pencegahan penularan HIV melalui hubugan non seksual.
  3. Upaya kuratif dilakukan untuk mengurangi risiko penularan HIV, menghambat perburukan infeksi dan meningkatkan kualitas hidup penghidap HIV dan dilakukan nya pendekatan berupa pemberian perawatan berbasis fasilitas pelayanan kesehatan, obat ARV bagi setiap orag yang diagnosis HIV pada semua stadium perkembanganya, pemberian obat ARV mengikuti standar regimen nasional secara patuh disertai upaya tracing pasangan dan konsisten pencegahan penularan lebih lanjut.
  4. Upaya rehabilitatif dilaksanakan untuk mengembalikan kualitas hidup menjadi mandiri dan tetap produktif dengan melalui rehabilitasi medis dan sosial seperti memberikan rawat jalan, rawat inap dan program pasca rawat, psikologis, sosial dan memberikan keleluasaan kepada ODHA untuk berkarier dan bersosialisasi serta bertanggung jawab di tempat tinggal maupun di tempat kerja tanpa stigma dan diskriminasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *