(Headline News) DIRJEN BELMAWA DIKTI : Memang ada accident, dalam penerbitan PERMENDIKBUD No. 154 Tahun 2014

-1

  Jakarta, 02/02/2015, Ditemui Perwakilan ISMKMI, Oleh Sekjen ISMKMI bersama Dir. Advokasi, Jajaran pengurus wilayah 2 dan Mahasiswa UMJ, di Gedung Dikti. Dr. Illah Sailah selaku direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (BELMAWA), mencoba menjelaskan beberapa pernyataan yang dilontarkan oleh rekan-rekan mahasiswa mengenai penerbitan nomenklatur permendikbud 154 tahun 2014.

     “ya, memang ada accident terkait penerbitan aturan tersebut karena kejar target kabinet periode lalu. Adapun pertimbangan untuk nomenklatur Kesling, K3 dan Promkes yang saat ini sedang direvisi saya coba kejar sore ini selesai”, ujar Illah Sailah, lulusan sarjana teknik ini.

    Perubahan Gelar S.KM menjadi S.Kes,   yang tertuang dalam Permendikbud 154 tahun 2014 menuai banyak kritik dari masyarakat dan organisasi. Perubahan ini pun dinilai belum mempertimbangkan beberapa pandangan dari kalangan ahli.

    “ Insya Allah pada tanggal 28 Februari target kita untuk uji publik, yang membuat berat pertimbangan ini adalah pertanyaan mengenai beberapa prodi yang baru muncul. Seperti Kesling, K3, dan Promkes, dll yang saat ini kita mash bertanya mereka masuk kemana”

     Ketika kembali ditanya mengenai bagaimana kordinasi ,untuk meminta pendapat pandangan ahli lain , “ ya sebelumnya sudah kita hubungi seluruh OP dan AIP , tapi saat ini kita akan lebih maksimal  kordinasi, terutama kepada Pak Adang (IAKMI) , untuk meminta pertimbangan.”

     Hal ini tentu masih menyisakan polemik dan banyak pertanyaan, tentunya hal ini harus terus kita kawal bersama dengan kelompok masyarakat yang lain.

-2

FKM SATU! ISMKMI MAJU!! INDONESIA SEHAT!!

oleh

DIREKTORAT ADVOKASI

IKATAN SENAT MAHASISWA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

Demam Berdarah di Jatim Telan 52 Jiwa

nyamuk aedes

Nyamuk demam berdarah.

REPUBLIKA.CO.ID,SURABAYA–Demam Berdarah Dengue (DBD) semakin mewabah di Jawa Timur. Perkembangan hingga Ahad (1/2), daerah berstatus ‘kejadian luar biasa’ (KLB) ditetapkan bertambah menjadi 23 kabupaten/kota.

Dilaporkan Kepala Dinas Kesatan (Dinkes) Jawa Timur Harsono, hingga Ahad (1/2) pukul 05.00, kasus DBD bertambah 108 kejadian dibandingkan Sabtu (31/1), menjadi 3.134 kasus. “Dibandingkan bulan yang sama di tahun 2014, ada peningkatan sebanyak 219,8 persen, di mana penderita tahun 2014 sebanyak 980 kasus,” ujar Harsono melalui laporan tertulis yang diterima Republika, Senin (2/1).

Dari jumlah tersebut, disampaikan Harsono, 52 orang tercatat meninggal dunia. Dibandingkan dengan periode Januari 2014, Harsono menjelaskan, peningkatan korban meninggal mencapai 80,7 persen. “Pada Januari 2014, korban tewas mencapai 9 orang,” ujar dia.

Ia melanjutkan, lima kabupaten/kota dengan jumlah penderita DBD terbanyak, berturut-turut adalah Sumenep (380 kasus),  Jember (270), Pacitan (198), Bondowoso (180) dan Bangkalan (160).

Sementara, 23 kabupaten/kota yang mengalami lonjakan kasus DBD lebih dari 200 persen atau berstatus KLB adalah Kab. Sumenep, Kab. Jombang, Kab. Trenggalek, Kab. Banyuwangi, Kab. Probolinggo, Kab. Mojokerto, Kota Mojokerto, Kab. Tulungagung, Kab. Kediri, Kota Kediri, Kab. Madiun dan Kota Madiun.

Selanjutnya adalah Kab. Pamekasan,  Kab. Pasuruan, Kab. Magetan, Kab. Ngawi, Kab. Ponorogo, Kab. Lamongan, Kab. Pacitan, Kab. Bangkalan, Kab. Nganjuk, dan Kab. Bojonegoro, dan Kab. Situbondo.

dikutip tanpa sedikitpun mengubah dari http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/02/02/nj4oc1-demam-berdarah-di-jatim-telan-52-jiwa

Cuaca Jadi Surga Nyamuk Aedes Aegypti di Jawa Timur

 nyamuk aedes
 Demam Berdarah Dengue (DBD) tengah mewabah di Jawa Timur. Sebanyak 21 kabupaten/kota mengalami lonjakan kasus DBD di atas 200 persen sehingga ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur dr Harsono menyampaikan, selain lemahnya kesadaran masyarakat soal kebersihan lingkungan, faktor cuaca juga berperan besar. Menurut Harsono, intensitas hujan yang fluktuatif di Jawa Timur saat ini menyebabkan polulasi nyamuk tinggi, termasuk di antaranya jenis Aedes aegypti.

Gambaran cuaca yang disampaikan Harsono memang bukan isapan jempol. Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Juanda Bambang Setiajid menjelaskan, Januari hingga pertengahan Februari merupakan puncak musim hujan.

Dibandingkan dengan provinsi lain, seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah, menurut Bambang, curah hujan di Jawa Timur sebenarnya relatif lebih rendah. Namun justeru karena hal tersebut, menurut dia, cuaca di Jawa Timur menjadi surga bagi nyamuk.

“Hujan pada Januari, sembilan hari di antaranya tidak ada hujan. Kadang tiga hari hujan, satu hari tidak, dua hari hujan satu hari tidak, bahkan terakhir sempat dua hari tidak hujan,” ujar Bambang kepada Republika, Senin (2/1).

Selain itu, menurut Bambang, kondisi tersebut diperparah oleh cuaca yang mendukung perkembangbiakan nyamuk. Bambang melaporkan, meskipun musim penghujan, suhu maksimum rata-rata cukup tinggi, yakni 32,25 derajat Celsius, dan paling rendah rata-rata 24,35 derajat Celsius.

Selain itu, Bambang berasumsi, angin yang bergerak cepat dari arah barat ke barat laut lalu menyebar ke timur mendukung perkembangbiakan nyamuk. Bambang melaporkan, kecepatan maksimum angina di Jawa Timur saat ini dalam kisaran 14-22 Knot.

Hingga kini, dilaporkan telah terjadi 3.026 kasus DBD di Jawa Timur. Dari jumlah tersebut, 51 orang tercatat meninggal dunia. Daerah dengan kasus tertinggi adalah Sumenep (289 kasus), Jember (239 kasus) dan Jombang (136 kasus).

Nyamuk Aedes aegypti membtuhkan genangan air untuk bertelur. Dari fase bertelur, menjadi larfa, hingga menjadi nyamuk dewasa, diperlukan setidaknya 7-8 hari.

dikutip tanpa di ubah sedikit pun dari http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/02/02/nj4jwh-cuaca-jadi-surga-nyamuk-aedes-aegypti-di-jawa-timur

Perubahan Nomenklatur S.KM menjadi S.Kes yang menuai kritik tajam…

     Pendidikan sarjana kesehatan masyarakat yang telah berumur lebih dari 20 tahun, tiba-tiba dikagetkan dengan perubahan nomenklatur yang di keluarkan oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (DIKTI) dengan Permendikbud No.154 Tahun 2014.

     Dimana gelar pendidikan ini yang tadinya bergelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.KM) menjadi Sarjana Kesehatan (S.Kes), hal ini sudah didiskusikan ISMKMI semenjak tanggal 25 November 2014. Jauh sebelum isu ini meledak ketika menjelang tahun baru, pencarian informasi pun terus dilakukan semenjak saat itu namun seolah seperti di tutupi oleh pejabat yang terlibat.

     Sampai akhirnya timbul gerakan di beberapa organisasi seperti IAKMI dan PERSAKMI, hingga saudara Riyan Aprilitama (staff direktorat advokasi ISMKMI) bersama Persakmi membuat petisi untuk menentang terjadinya perubahan tersebut.  Di ISMKMI terjadi perdebatan panjang mengenai hal ini, karena memang walaupun tidak merubah struktur pendidikan ataupun tidak sama sekali mengancam keberadaan S.KM. Hal ini  masih dirasa kurang tepat  karena, S.Kes terlalu luas sebagai gelar yang menyimbolkan lulusan akademi pendidikan kesehatan masyarakat.

     Ditambah mengutip tulisan saudara Riyan Aprilitama di change.org, mengenai isi permendikbud ini dimana “Tertulis penggunaan gelar S.Kes tidak hanya untuk lulusan prodi Kesehatan Masyarakat tetapi juga untuk beberapa lulusan prodi lain. Sebagai contohnya, program studi S1 Kesehatan Lingkungan. Asumsi pokok yang paling memungkinkan adalah bahwa pengaturan inisial gelar S.Kes untuk lebih dari satu program studi ini, pasti berpangkal pada satu basis atau dasar. Padahal, sebagaimana dinyatakan pada Pasal 4 Ayat (3) Permendikbud 154/2014, basis penamaan prodi adalah suatu Disiplin Akademik.

     Pertanyaannya kemudian: Apakah prodi-prodi yang berbeda secara nama, mempunyai basis Disiplin Akademik yang tunggal, sehingga perlu diidentifikasi secara seragam? (Pada kasus ini adalah dengan adanya pengaturan gelar S.Kes bagi beberapa prodi dimaksud, termasuk Kesehatan Masyarakat).”

Jadi kenapa dirubah ?

     Untuk saat ini dengan mengucapkan syukur bahwa permendikbud ditarik, dan janji Dr. Illah Saillah selaku Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (BELMAWA) akan di revisi hingga hari senin tanggal 02 februari 2014, dan akan dilakukan uji publik kembali dalam waktu 1 bulan. Begitu janji yang di berikan kepada ISMKMI ketika, melakukan advokasi mengenai hal tersebut.

Dan ini harus terus kita kawal bersama.

Capture
Oleh :

Direktorat Advokasi

Direktorat Penelitian dan Pengembangan

Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI)

Polemik Panjang Anggaran Kesehatan Kita

1535557620X310

     Diskusi Mengenai Bagaimana pemenuhan Anggaran Kesehatan sebenarnya sudah sangat lama dilakukan, namun, cenderung tidak ada ujungnya. Padahal, poin ini sangat fundamental dalam pembangunan negara menuju kesejahteraan.

     Anggaran Kesehatan di kemenkes saja, mengalami fluktuatif yang luar biasa dimana, paling besar hanya sekitar 2,51 % itupun terjadi pada tahun 2011. Kemenkes,  pada tahun 2010 hanya menerima 2,39%, pada tahun 2012 turun menjadi sekitar 2,34 %, pada tahun 2013 kembali menurun menjadi 2,17 %. Masuk pada tahun 2014 angkanya mencapai 2,5% itupun termasuk PBI (penerima bantuan Iuran), karena 2014 adalah tahun dimana Jaminan Sosial Diberlakukan. Masalahnya menjadi rumit , karena sekitar 19,93 triliun untuk PBI dari total 47,4 triliyun yang ada.

     Pada tahun 2015 ini,  Kemenkes masih terbebani dengan adanya PBI yang ditanggung bersama oleh kemenkes. Jika pada tahun 2014 anggaran diluar PBI adalah sekitar 24,1 triliun maka pada tahun ini kemenkes menargetkan hanya naik sedikit menjadi 27,79 triliun. (lihat tabel dibawah ini)

tabel 1

     Itu baru di kemenkes, seperti yang kita tahu Anggaran kesehatan tidak hanya terpusat di kemenkes saja. Dia (anggaran kesehatan) Tersebar di beberapa kementrian atau lembaga seperti  Badan Pengawas Obat dan Makanan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencanan Nasional, Askes PNS dan tunjangan kesehatan Veteran, serta DAK (Dana Alokasi Khusus).

     Sepanjang sejarah total anggaran kesehatan kita tidak pernah mencapai 5%, tahun 2005  sekitar 2,5 %,dan pada tahun 2011 adalah angka tertinggi dengan total anggaran sekitar 3,6 %. (lihat tabel dibawah ini)

tabel 2

     Dari situ kita baru berbicara betapa ruwetnya pemenuhan anggaran kesehatan dari kacamata kuantitatif. Lalu bagaimana jika berbicara dengan kualitas penggunaan anggaran dan apa saja masalah anggaran kesehatan ini ?

     Bicara kualitas juga belum maksimal, pada poin Dana Alokasi Umum saja 60%-80% habis digunakan untuk membayar gaji, sedangkan untuk Dana Alokasi Khusus hanya digunakan untuk kebutuhan fisik saja.  Selain itu sering terjadi Penyebaran APBN yang seringkali menumpuk di akhir tahun. Jika di asumsikan hampir setengah dana hanya untuk PBI dan Kebutuhan fisik saja.

     Kemana pendekatan preventif dan promotif dalam rangka membangun masyarakat yang sehat dan sejahtera ??

Kesimpulannya ISMKMI mendorong adanya :

  1. Pemenuhan anggaran kesehatan 5%
  2. Naiknya harga BBM yang memberikan celah fiskal yang banyak, harus menyisakan ruang maksimal untuk anggaran kesehatan dimana sesuai dengan Amanah UU Kesehatan No.36/2009 Pasal 171
  3. Peningkatan kordinasi yang baik antar lembaga dan kementrian dalam pembagian anggaran kesehatan yang ada berdasarkan prinsip Kuratif  dan preventif yang proporsinya setara.
  4. Manajemen pembiayaan yang transparan dan efektif harus diperhatikan sehingga maksimal dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang maksimal.

Oleh :

Direktorat Advokasi

Direktorat Penelitian dan Pengembangan

Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI)

Pakar Geologi: Karangkobar, Tanah Paling Rawan Longsor di Banjarnegara

longsorpost3

Bencana Longsor Banjarnegara

Yogyakarta, – Pakar geologi Fakultas Teknik yang juga Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Ir Dwikorita Karnawati, MSc, PhD mengatakan wilayah Kecamatan Karangkobar merupakan tanah yang paling rawan longsor di Kabupaten Banjarnegara. Oleh karena itu, dia meminta warga sekitar untuk secepatnya menghindar atau mengungsi bila terjadi hujan deras.

“Kami dan tim assesment sudah turun ke lokasi untuk mengetahui kebutuhan yang harus segera diberikan pada masyarakat,” ungkap Dwikorita kepada wartawan seusai acara pelantikan Pengurus Pusat (PP) Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) di Balai Senat UGM, Minggu (14/12/2014).

Dia mengatakan hasil tim investigasi awal, wilayah Banjarnegara merupakan areal yang paling rawan longsor. Wilayah Karangkobar adalah wilayah paling rawan.

“Bisa dikatakan top of the top. Karen posisi lahan berbukit dan disusun dari batuan dan tanah yang rapuh,” katanya.

Menurut dia, masyarakat sebenarnya juga sudah banyak mengetahui bila tanah yang ditempati itu rawan longsor. Namun dengan alasan berbagai hal atau latar belakang sosial ekonomi, mereka tetap tinggal di tempat itu.

Dia mengatakan tata guna lahan adalah suatu hal yang sangat penting. Tata guna lahan yang relatif tidak terkendali, berpotensi menimbulkan longsor. Di kawasan tersebut tidak ada tata ruang yang baik dan ada perubahan tata guna lahan. Pemotongan lereng dan pembukaan lahan yang tak terkendali bisa menimbulkan longsor.

“Belum ada aturan mengenai sempadan lereng. Yang baru ada adalah aturan sempadan sungai, yakni sekian meter di kanan kiri sungai itu tidak boleh,” ungkap guru besar Fakultas Teknik UGM itu

Menurut dia, apabila masyarakat masih belum siap untuk direlokasi dan sudah mengetahui bila tanah tersebut rawan longsor, yang perlu dilakukan adalah pemantauan setiap saat.

“Peringatan dini lebih diutamakan. Kalau hujan turun, langsung menghindar,” pungkas dia.

Sumber : http://news.detik.com/read/2014/12/14/140914/2776805/10/pakar-geologi-karangkobar-tanah-paling-rawan-longsor-di-banjarnegara?n991102605 di akses tanggal 14 Desember 2014 Jam 15.06

ARAHAN NASIONAL ISMKMI AKSI PEDULI BENCANA ‪#‎ISMKMIPeduliBanjarnegara‬

ismkmi banjarnegara

Badan Khusus Siaga Bencana, Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Direktorat Jaringan Komunikasi
Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia


Setiap institusi anggota ISMKMI wajib melakukan aksi peduli Banjarnegara sebagai bentuk pengabdian kita kepada masyarakat Indonesia dengan cara :


1. Edukasi tentang pentingnya siap siaga saat bencana tanah longsor melalui media sosial dengan hastag ‪#‎BahayaTanahLongsor‬ #ISMKMIPeduliBanjarnegara dengan mention ke @ISMKMI
2. Pengumpulan bantuan setiap institusi berupa barang sperti baju2, selimut, pembalut, pampers bayi, makanan dll oleh BEM/Pokja masing-masing institusi bisa didistribusikan melalui Sekre Bersama KBM Kesmas Unsoed di Kampus Kesmas Unsoed Gedung BJl. Dr. Soeparno 115 Karangwangkal, Purwokerto 523123
4. Penggalangan dana yang dapat disalurkan ke rekening ISMKMI, Rekening BNI (a.n Amidiana Araminta) 0288383211


Jangka waktu :
a. Edukasi melalui media sosial : mulai saat diberlakukannya arahan – waktu kejadian Tanah Longsor di Banjarnegara membaik


b. Pengiriman bantuan ke ISMKMI : maksimal 30 Desember 2014
Salam ISMKMI Peduli Banjarnegara


Muflikhatun Umamah (Dir.Pengabdian Masyarakat) 097730413122
Nanda Ayu Rizki (Dir.Badan Khusus Siaga Bencana) 085260881379
Atik Setyoasih (Dir. Jaringan Komunikasi) 085729392924


NB:
Konfirmasi transfer dana ke Amidiana Araminta (Jaringan Komunikasi) 085726005085
Salam Cinta dari ISMKMI untuk Indonesia